Terminal III Soekarno-Hatta Masih Menjadi Momok bagi TKI

Senin, 15 Desember 2003
Singapura, Kompas – Tenaga kerja Indonesia yang pulang ke Tanah Air setelah kontrak kerja berakhir atau berhenti di tengah jalan karena bermasalah dengan majikan, menganggap Terminal III Bandara Soekarno-Hatta sebagai momok. Para TKI khawatir diperas oknum aparat, baik di lingkungan bandara maupun di tengah jalan menuju kampung halaman.

Kekhawatiran akan menjadi korban pemerasan di lingkungan bandara, diungkapkan sejumlah TKI kepada Kompas dalam penerbangan dari Singapura ke Jakarta, Sabtu (13/12) malam. Dari rombongan sekitar 50 TKI tersebut, sebagian kecil kembali ke Indonesia karena kontrak berakhir atau liburan, sementara sisanya bermasalah sehingga terpaksa pulang mendadak. Ada yang tiket pulang diberikan majikan, tetapi ada juga yang bisa pulang setelah mendapat pinjaman uang dari sesama TKI di Singapura.

Maryam, salah seorang TKI, mengaku pikirannya jadi kacau, sebab membayangkan cara petugas memaksa TKI berikut barang-barangnya lewat “Jalur Khusus TKI”. “Aku sudah lima tahun bekerja di Singapura sebagai pembantu rumah tangga, dan setiap tahun aku diberi libur dua minggu untuk pulang ke Indonesia. Hanya satu yang paling aku takuti, disuruh petugas ke terminal III,” kata TKI asal Lampung itu.

Ketakutan masuk ke terminal itu cukup beralasan, karena menurut Maryam, aparat akan melakukan pemerasan terhadap TKI. Tahun 2002 ketika pulang ke Indonesia, uang yang di kantongnya habis terkuras. Petugas minta ongkos travel ke Lampung Rp 350.000, di tengah jalan pengemudi minta setiap orang membayar Rp 100.000 untuk membeli bensin.

Mendekati rumah, pengemudi kembali minta Rp 50.000 per TKI, dan setelah sampai semua penumpang sebanyak 10 orang, diminta lagi Rp 250.000 per orang. “Pokoknya setiap pulang ke Indonesia kecuali tahun 2001, duitku habis dikuras aparat, padahal gaji di Singapura cuma 310 dollar Singapura,” kata ibu dari dua anak itu.

Ketakutan serupa juga diungkap Habsah, asal Kendal, Jawa Tengah. TKI yang baru bekerja 1,5 tahun di Singapura ini pulang karena tidak kuat bekerja seperti budak. “Tadi pagi saya minta pulang karena sudah tidak kuat lagi kalau terus bekerja di tempat itu. Bisa mati aku,” kata TKI yang pernah bekerja di perkebunan sawit di Malaysia.

Menurut Habsah, TKI masih sebagai obyek pemerasan di Indonesia. Semua orang, menganggap TKI yang pulang dari luar negeri membawa uang banyak, jadi selalu dijadikan obyek pemerasan. Pemerasan bukan saja di terminal III, tetapi sejak kaki masuk gedung, pegawai perusahaan penukaran uang mulai menawarkan jasa. “Badan kita ditarik-tarik supaya menukarkan valuta asing di perusahaannya, padahal harganya lebih murah,” ujarnya.

Sebelum berangkat di Bandara Internasional Changi, Singapura, beberapa TKI sempat menukar uang dengan kurs Rp 5.000 per dollar Singapura. “Begitu di Jakarta nilainya cuma Rp 4.770, kok aneh di negeri sendiri lebih murah, permainan kurs valuta asing juga bukan di luar gedung oleh calo, tetapi petugas bank yang buka loket di dalam terminal,” ujarnya. (eta)

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: