Mereka Memeras Hasil Keringat TKI

Terminal III adalah saksi bisu tentang penindasan BMI yang tersistematisasi. Rendahnya moral dan kinerja aparat pemerintah yang ditambah dengan tidak adanya bentuk kepedulian yang riil serta pengakuan dan perlindungan yang komprehensif atas hak-hak BMI menjadi penyebab dari berbagai bencana yang dialami BMI.

(Kompas, 17 Oktober 2003) DI atas kursi roda, Sariah (17) duduk terpaku. Wajahnya pucat pasi. Mulutnya kering dan mengatup rapat. Sesekali tubuhnya kelihatan gemetar. Berulang kali tenaga kerja Indonesia asal Cirebon, Jawa Barat, itu mencoba bangkit dari kursi rodanya. Namun, ia nyaris terjatuh jika tubuhnya tidak disangga teman-teman TKI lainnya.

“Saya menemukannya di bandar udara Madinah. Ia duduk di kursi roda sendirian,” kata Erisanery (23), tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Indramayu, Jawa Barat, di Terminal III Bandar Udara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Kamis (16/10). Saat ditemukan, kata Erisanery, kondisi Sariah sudah parah. Ia sama sekali tidak mau bicara. Tangan kanannya memegang erat-erat tiket pesawat Saudi Air yang akan membawanya pulang ke Indonesia.

Sepanjang perjalanan Madinah-Jakarta, Sariah tetap terdiam. Ia juga tidak mampu duduk bersandar selama 13 jam perjalanan karena punggungnya sakit. Di kakinya juga tampak luka memar dan bengkak. “Ia sering tampak ingin menangis. Tetapi tidak bisa. Dia pun sulit bicara,” kata Erisanery .

Menurut penuturan petugas kantor penampungan TKI di Madinah, Sariah diculik beberapa pemuda saat sedang membuang sampah di halaman rumah majikannya. Sepanjang hari majikannya menunggu, tetapi Sariah tidak muncul-muncul. Sore harinya, Sariah datang mengebel pintu. Tetapi semenjak itu dia tidak mau bicara, tidak mau makan, dan tidak mau bekerja. Selang dua minggu, tubuh Sariah makin menyusut dan tercium bau busuk dari alat kelaminnya. Karena kondisinya makin parah, Sariah dipulangkan ke Indonesia.

SARIAH hanya satu dari puluhan TKI bermasalah yang setiap hari tiba di Terminal III Bandara Soekarno-Hatta. Menurut petugas di Induk Koperasi Polisi (Inkoppol), setiap hari rata-rata 20 TKI bermasalah yang dikirim ke rumah sakit. Ada yang mengalami sakit alamiah, namun banyak pula yang sakit dan stres karena mengalami penganiayaan atau pemerkosaan. Kebanyakan kasus pemerkosaan dialami para TKI yang bekerja di Timur Tengah.

Tidak semua TKI yang bekerja di luar negeri bernasib seperti Sariah. Meski banyak yang gagal, banyak pula TKI yang berhasil. Di luar negeri, nasib mereka boleh berbeda. Namun, sekembalinya ke Tanah Air, nasib mereka nyaris sama. Sama-sama diperas! “Kami capek-capek kerja sampai ke luar negeri… eh mereka yang menikmati uang kami,” ujar Darsini, TKI dari Tulungagung, Jawa Timur.

Beberapa TKI lain yang sedang antre membeli tiket antaran pulang mengungkapkan hal yang sama. Menurut Erisanery yang sudah tiga kali bolak-balik ke Arab Saudi, meski sudah membeli tiket resmi, dia masih sering diturunkan di tengah jalan. Mobil yang dinaikinya tidak mengantarnya sampai di rumah sesuai dengan ketentuan.

“Saya disuruh bayar Rp 500.000. Di pos polisi ada pemeriksaan kesehatan dan saya disuruh bayar Rp 50.000,” ujarnya kesal. Padahal, gaji Erisanery di Madinah hanya sekitar Rp 1,2 juta per bulan. Hal yang sama dialami teman-temannya dari Indramayu.

Soal pungutan bukan hanya dialami para TKI, namun juga dialami keluarga yang menjemput mereka. Menurut Eem dari Purwakarta, Jawa Barat, menjemput TKI itu tidak mudah, minimal harus mengeluarkan uang Rp 45.000.

Bagi TKI dan keluarganya, urusan jemput-menjemput ternyata tidak sesederhana penumpang pesawat lainnya. Penumpang penerbangan domestik dan internasional, selain TKI, tentunya bisa langsung dijemput di Terminal I dan Terminal II Bandara Soekarno-Hatta.

Namun, TKI yang baru pulang, di bandara harus mengalami proses panjang dan melelahkan. Selain itu, baik pihak TKI maupun penjemputnya harus sama-sama mengeluarkan uang agar bisa bertemu.

Proses penjemputan dimulai dari terminal II, tempat para TKI turun dari pesawat. Dari terminal II, TKI dibawa ke terminal III dengan bus. Dari satu proses itu saja, TKI sudah harus mengeluarkan uang RP 20.000, yaitu Rp 10.000 untuk menaikkan barang bawaan ke bagasi bus dan Rp 10.000 untuk menurunkan barang dari bagasi ketika sampai di terminal III.

Setelah tiba di terminal III, TKI wajib mendaftarkan diri di loket pendataan milik Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Depnakertrans). Di loket pendataan itu, TKI wajib membayar Rp 25.000. TKI yang dijemput mengisi semacam formulir, yakni tentang nama diri dan nama penjemputnya.

Agar bisa bertemu keluarganya, penjemput juga harus mengeluarkan uang. Menurut Eem, dia harus membayar Rp 5.000 di loket pemanggilan jemputan. Penjemput yang sudah dipanggil juga dimintai Rp 10.000 oleh petugas di pintu gerbang masuk terminal III. Pada saat penjemput masuk untuk mengambil TKI, kata Eem, dia dimintai uang Rp 30.000. “Kami seperti disuruh nebus,” ujar Eem.

Kalau dihitung, total biaya yang dikeluarkan dalam proses penjemputan itu bisa mencapai Rp 80.000 untuk seorang TKI. Dengan demikian, jika dalam sehari ada 500 TKI yang datang, uang yang bisa dipungut dari situ bisa sekitar Rp 40 juta per hari. Dalam satu bulan, uang yang ditarik dari kalangan TKI bisa mencapai Rp 960 juta.

TKI yang tidak dijemput bisa pulang dengan mobil pengantaran resmi yang dikelola Inkoppol. Biayanya bervariasi, tergantung daerah asal. Biaya ke Sukabumi, Jawa Barat, misalnya, ditentukan sebesar Rp 160.000 per orang.

Salah seorang petugas Inkoppol-yang tidak mau disebut namanya-mengatakan, praktik pungutan liar di loket penjemputan memang pernah terjadi. Namun, praktik pungutan itu sudah berhenti dua bulan lalu sejak pihak bandara menurunkan anggota Brimob, provoost, dan polisi militer.

“Kalau ada yang meminta di luar biaya resmi, itu hanya oknum,” ujar petugas Inkoppol tersebut.

Dirjen Pembinaan dan Penempatan Tenaga Kerja Luar Negeri I Gusti Made Arka menjelaskan, biaya sebesar Rp 25.000 yang ditarik oleh Depnakertrans adalah resmi. Penarikan biaya itu telah dituangkan dalam Nota Kesepahaman Depnakertrans dengan Inkoppol.

Menurut Arka, biaya jasa pelayanan itu untuk ongkos angkut TKI dari terminal II ke terminal III, biaya angkut barang, biaya perawatan di Rumah Sakit (RS) Polri Kramat Jati, Jakarta, bagi TKI yang sakit termasuk ongkos ambulans dan biaya tenaga pengamanan yang mengawal seluruh bus yang mengangkut TKI ke daerah asal.

“Minimal setiap 50 anggota Polri bertugas mengawal bus rombongan TKI dari terminal III sampai ibu kota kabupaten,” kata Arka.

Ia menambahkan, setiap hari ada 20 TKI yang sakit tiba di Indonesia sehingga perlu perawatan.

“Biaya perawatan selama di rumah sakit ditanggung oleh Inkoppol. Dana tersebut bersumber dari uang sebesar Rp 25.000 yang dipungut secara resmi dari TKI itu,” kata Arka. Setiap hari, lanjut Arka, minimal 800 TKI tiba di Tanah Air setelah kontrak kerja mereka di luar negeri berakhir.

Depnakertrans memang boleh beralasan macam-macam soal uang pungutan. Kenyataannya, pelayanan terhadap TKI yang sakit masih dinilai belum manusiawi. Meski dalam sehari ada 20 TKI yang sakit, pada saat mereka harus ke rumah sakit, sering kali para TKI tidak diantarkan dengan ambulans.

Kebanyakan TKI yang sakit dibawa dengan mobil minibus biasa. Mereka sering berdesak-desakan di dalam mobil. Padahal, banyak TKI yang mengalami luka parah saat dievakuasi ke rumah sakit. “Kami terpaksa minta bantuan ambulans untuk mengangkut TKI yang sakit,” kata Dina Nuriyati, Ketua Federasi Organisasi Buruh Migran Indonesia (FOBMI).

Pelayanan terhadap TKI yang sakit akibat dianiaya atau diperkosa juga dianggap meresahkan. Pasalnya, petugas di Inkoppol hanya menyerahkan begitu saja para TKI yang sakit kepada pengerah jasa tenaga kerja Indonesia (PJTKI). Padahal, TKI yang menjadi korban rata-rata takut dikembalikan ke PJTKI. Mereka takut disuruh membayar uang ganti rugi karena dianggap melanggar kontrak.

“Saya tidak mau dikembalikan ke PT (kantor PJTKI-Red). Nanti disuruh bayar Rp 15 juta,” kata Fatimah (bukan nama sebenarnya), TKI asal Serang yang diperkosa lima pemuda Arab di Dammam, Arab Saudi.

Sariah yang siang itu tergolek di kursi roda di terminal III juga mendapat perlakuan yang sama. Ia tidak segera dibawa ke RS Polri dr Soekanto meski menderita luka parah. Ajun Komisaris Bugi S yang sedang bertugas sebagai perwira piket di bandara hari itu mengatakan Sariah akan dibawa ke RS Polri dr Soekanto.

Petugas di Inkoppol mengatakan, Sariah akan dijemput pihak PJTKI, yaitu PT Amaritama Berkah, dan bersama-sama dibawa ke RS Polri dr Soekanto. Namun, ketika dicek keluarganya, Sariah tidak pernah muncul di rumah sakit tersebut. Ketika dikonfirmasi, Shinta, petugas Inkoppol, mengatakan, pihak PJTKI meminta agar Sariah dirawat di RS Pasar Rebo.

Perlakuan terhadap TKI penghasil devisa terbesar di negeri ini memang masih morat-marit. Pemerintah pun tidak mampu melindungi keberadaan mereka di luar negeri. (LUSIANA INDRIASARI)

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: